“Susanto is a Liar”

“My dad (Susanto) is a liar ..”

1 Mei 2014, putri kecil kami lahir setelah kami nantikan selama 6 tahun. Namanya “Kay Susanto”.

23 Mei 2015, papa yang sangat saya kasihi pergi meninggalkan kami untuk selamanya.

Kepergian papa merubah total cara saya dalam memandang uang, ambisi, dan keinginan-keinginan untuk “sukses” yang tidak akan pernah ada habisnya ini.

Saat itu, nilai uang menjadi sangat kecil atau bahkan tidak ada artinya.

Menyesal?

Yes!

Saya menyesal bukan karena papa pergi tapi saya menyesal untuk hal-hal kecil yang sudah tidak lagi saya bisa lakukan di bulan-bulan terakhir ini bersama papa. Saya tertempelak dengan sikap arogan karena hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

Setelah papa pergi, saya baru sadar betapa saya sangat merindukannya.

Saya kangen ketika saya telpon papa hanya untuk bilang saya sayang papa, saat makan bersama dan melihat papa begitu “rakus” makannya, saat merangkul papa sambil jalan bahkan ketika harus mendengar ceritanya yang terus menerus diulangnya. Tiba-tiba saja saya dengan mudah dapat mengingat ada begitu banyak kenangan indah dan banyak pengorbanan yang sudah papa lakukan dari saya kecil sampai hari ini.

Dan hari ini saya melihat putri kecil saya yang sudah tertidur. Saya semakin sadar, saya harus memberikan cerita yang memorable untuk orang-orang yang saya kasihi, termasuk putri kecil saya. Karena kenangan-kenangan itulah, yang akan terus diingat oleh mereka saat kita pergi kembali kepada-Nya.

Mendadak saya ingin tinggal di kampung, dekat dengan mama saya dan menjauh dari hiruk pikuk kota besar untuk belajar meredefinisi apa arti sukses, apa arti uang dan apa arti kebahagiaan secara personal.

Ada beberapa proyek yang tertunda, baik itu yang ada hubungannya dengan membantu member, membantu mempromosikan situs milik partner atau proyek pribadi.

Jangankan do something buat orang lain, buat ngerjain proyek pribadi pun masih belum sepenuhnya move on. Bersyukur belasan karyawan tetap yang sudah bertahun-tahun membantu saya terus menunjukkan loyalitas dan dedikasinya. Sehingga sekalipun “bos”nya masih galau, mereka tetap bisa mengerjakan tugas-tugas operasional usaha dengan baik.

Saya semakin sadar bahwa usia 65 atau bahkan 90 tahun adalah waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan kekekalan. Saya semakin sadar bahwa the world is not my home. Cuman mampir doank.

Ketika saya mampir ke rumah Anda, tentunya paling banter dikasih teh atau kopi, bahkan sudah sangat senang jika disuruh makan. Tapi tentunya setelah itu saya pulang, saya tidak mungkin membawa barang2 mewah milik anda dg segala cara kecuali anda yang memberikannya dg sukarela. Toh sekalipun Anda beri, tidak mungkin semuanya bisa saya bawa sendiri 🙂

Saya sudah pernah membaca beberapa kalimat bijak diatas sudah sangat lama, tapi hari ini sepertinya saya mendapatkan banyak “aha moment” yang membuat saya bisa bijak menjalani hidup. Saya seringkali kejar uang tapi lupakan hal yang paling esensi.

Hari ini saya paksakan menulis sebagai pemanasan untuk menarik kembali kemampuan saya yang hampir sebulan ini tidak saya pakai. oh, kalo teman-teman lihat saya, betapa kucel dan menua-nya saya 🙂

Saya percaya waktu akan membantu saya memberikan pemahaman yang benar supaya saya bisa sepenuhnya move on.

4 Comments

  • ulfahshop says:

    Ibarat gerbong kereta, dalam hidup selalu ada yang datang dan pergi. Jadi entah di stasiun mana kita berhenti nanti….pastikan saja kita jadi teman yang menyenangkan di perjalanan. #selfremainder

  • hasan kamaludin says:

    sy turut berduka cita,semoga mendapat tempat yg layak di sisinya,oh ya sy minta alamat kantor dong sama no telp nya termakassih sebelumnya.

  • Mustakim says:

    Semua sudah ada jalannya semoga ada hikmah yang lebih penting di balik semua itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *