Pentingnya PPJB

“PENJUAL RUMAH YANG BAIK” by. Gm.Susanto

Pentingnya PPJBPenjual (J)
Pembeli (B)

B: “halo bu, saya Gm yg waktu itu ketemu. setelah ngobrol sama istri, saya minat utk membeli rumah ibu yg ada di legenda wisata cibubur. boleh minta nomor rekeningnya? saya mau bayar uang mukanya lewat transfer bank”

J: “loh pak gm, kan kt belum ketemu lg. kapan bpk ada waktu, main lg ke rumah saya”

B: “wah, sy lg di luar kota bu. saya takutnya, itu rumah ada yg naksir. pdhl istri saya udh cocok tuh. udah lah ya bu, mohon diterima uang muka dari saya. cmn 10 juta rupiah saja kok.”

J: “adduuuhh pak, jangann atuh. kan kita belum buat PPJB di depan notaris.”

B: “saya percaya sama ibu kok”

J : pak gm, sertipikat rumah ditangan saya loh, kalo nanti saya jual lg ke orang lain yg berani nawar lebih tinggi, piye?

B : “justru itulah saya semakin percaya sama ibu”

J: “bukan begitu maksud saya. ya udh deh gini saja, ibu  mau tanya pak gm mau membayarnya pake apa? lunas atau KPR?”

B: “spt yg saya bilang waktu itu, kalopun saya berminat membeli saya mampunya bayar dg cara dicicil maksimal 4 bulan lunas bu”

J:”Nah itu dia pak gm. kalo ini misalnya bapak sdh transfer lalu tiba2 saya meninggal gimana? trs kalo anak saya atau suami saya tdk mau mengakui ada proses transfer ..? pasti nanti prosesnya panjang dan bikin repot pak gm.

B: wah emang bs  ya bu ? (otaknya mulai mikir, mulai ngitung)

………………………………………

Kalo kita bertemu dg tipe penjual spt ibu ini ya beruntunglah kita, tp kalo tidak? hmm, skak mat!

Berita jeleknya, terlalu banyak penjual yg hanya karena uang, rela melakukan sgl cara termasuk memberikan alasan yg mengada-ada. Ujung-ujungnya, uang kita yang dicaploknya.

untuk itulah kita perlu yang namanya PPJB (Perjanjian Perikatan Jual Beli).

bahasa sederhananya, Ini adalah perjanjian yang dibuat antara penjual dan pembeli bila pembeli belum sanggup membayar penuh harga properti (rumah, ruko, dll) dg cara cash (lunas). Jadi baru membayar tanda jadinya saja atau bs jg hanya bisa membayar Down Payment saja.

Spt kasus cerita di atas.

lebih aman saat membuat PPJB itu di depan notaris yang disepakati bersama.

nanti dinotaris, ketika dibuatkan PPJB si penjual sdh tdk boleh lg memegang sertipikat dan hanya diberikan tanda terima.

lalu sertipikatnya siapa yg pegang?

Ya, si notarisnya itu. Disimpan sama dia sampai kita melunasi pembelian rumahnya. kalo pun kita yg beli batal ya tinggal dikembalikan ke si penjual lagi.

Isi PPJB kurang lebihnya seperti ini :

1. Obyek jual beli (nomor Sertifikat rumah, lokasi ada dimana)

2. Harga properti yang disepakati, beserta cara pembayarannya (misal akan diangsur 4x dalam waktu 4 bulan, dicantumkan tanggal-tanggalnya atau dibayar menggunakan KPR dimana prosesnya memakan waktu 1 sd 2 bulan).

NOTE : dalam PPJB harus ada jumlah pembayaran yang disepakati, tanggal bulan dan tahun. kalo tdk ada spt itu, ya nantinya suka-sukanya si pembeli bayarnya. bulan ini bisa bayar, bulan depan libur atau bayarnya tdk sesuai jumlah yg disepakati. Kalau sudah ada PPJB kan lebih mudah, kalau tidak bayar bisa kena denda, kalau lewat waktu ya bisa dibatalin.

jadi win-win 🙂

3. harus ada keterangan bahwa si Penjual menjamin bahwa objek rumahnya tdk dlm sengketa atau masalah (digadai, di agunkan bank atau di jadikan jaminan, atau masih rumah warisan, dst)

4. ada pasal yang menulis bahwa si penjual hrs membebaskan pembeli dari segala tuntutan yang timbul di kemudian hari baik dari segi perdata maupun dari segi pidana atas tanah dan bangunan tersebut. (iya donk, kan kt gak tau sejarahnya bagaimana – kalo tiba2 setelah kita beli dan pas waktu dibangun ada yg protes-protes gimana? )

5. ada jg komitmen membayar membayar pajak, spt pajak penjual, pajak pembeli, biaya notaris, biaya PPJB, biaya balik nama, dst. ada kasus tertentu dimana pajak penjual di tanggung oleh pembeli atau jg sebaliknya. apapun itu harus dicatat di PPJB itu.

6. harus ada pasal yang menulis mengenai DENDA artinya bila penjual mengulur-ulur waktu penyerahan rumah melewati batas waktu yg disepakati hrs ada denda. Jk tdk dibayar dendanya sampai sekian hari, dinyatakan BATAL dan penjual berhak memberikan seluruh uang pembelian beserta dendanya.

7. Sebaliknya, ada jg konsekuensi bagi pembeli, bila terlambat membayar angsuran sesuai kesepakatan, dikenakan denda sesuai kesepakatan. Jk misalnya dalam sekian bulan, tdk lunas-lunas ya PPJB dapat dibatalkannya secara sepihak oleh penjual  uang dikembalikan  sekian persen atau malah hangus sekalian.

8. Penjual tidak boleh  membatalkan proses jual beli rumah bila tdk ada yg melanggar. kalo semuanya menjalankan hak dan kewajibannya ya berarti proses akad terus berlangsung.

-kalo penjual yang membatalkan biasanya uang yang sudah masuk dikembalikan sepenuhnya beserta denda (kalo mau)

– kalo pembeli yang membatalkan maka uang yang sudah dibayarkan biasanya hangus semua.

Nah, kebayang kan betapa pentingnya PPJB itu.

kalo kita sebagai pembeli tdk mau buat PPJB itu ruginya banyak, ini alasannya :

  • Sertifikat rumah masih dipegang oleh penjual kalo dia nakal terus dijual lg ke orang lain, gimana? padahal kita sdh membayar, dan cilakanya uang tsb sdh dipakai sama pembeli buat bayar hutang. sementara kita tagih, selalu saja ada alasan!
  • Kalo misalnya uang DP yang kita bayarkan beserta sertipikatnya dibawa kabur sama penjual gimana? Emang, kt tahu dia pergi kemana, ya kalo satu kota kalo di luar kota? propertinya masih ada, tp secara hukum kt tdk punya bukti apapun. Dicari orangnya, susah ketemu. Wah, mumet lah kita 🙂
  • Penjual nakal bisa saja tidak mau ngaku menerima uang pembeli walaupun ada bukti transfer, bisa saja dia bilang, “lah mana tahu saya transfer, kok ujug2 kasih uang ke saya, itu ya salah sendiri!”
  • bisa jadi si penjual meninggal, kemana mau menuntut uang yang sudah kita transfer. keluarga mereka bs saja cuek, tdk mau mengaku. pokoknya pusing, bisa panjang urusannya!

Ada yang mau sharing 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *