Direkam Donk, Apa Anda Sudah Mencobanya?

Saran Sederhana Yang Masih Dilupakan Orang Saat Proses Pembelian Properti

agen-properti

Saya baru membeli properti senilai 1, sekian M. Tidak ada yang strategi yang spesifik karena saya membayarnya secara cash. Tidak pake tanda jadi, langsung uang muka (cek) di depan notaris dan dalam 2 minggu berikutnya saya lunasi di depan notaris yang sama.

Namun ada hal menarik yang ingin saya sharingkan disini.

Begini, jika misalnya kita tinggal di satu daerah tertentu, misalnya jakarta timur dan sudah puluhan tahun disana maka tidak akan ada kesulitan yang berarti ketika kita melakukan proses pembelian properti. Karena kita tahu wilayah, bahkan notaris dan seterusnya.

Namun bagaimana jika kita dari luar kota yang ingin membeli properti di satu tempat dan kita belum terlalu mengenalnya?

Bisa jadi dalam prosesnya kita akan mencari lewat broker (profesional maupun makelar umum), iklan, hunting sendiri. Saya tidak akan ceritakan runut namun ada point2 penting yang bisa sedikit saya sharingkan disini.

Saat kita sudah lebih serius nego harga dengan penjual, sampai akad di depan notaris saya biasanya menggunakan alat perekam yang ada di HP yang biasa saya bawa tanpa diketahui oleh mereka. Why?

Supaya saya bisa  mencerna atau mempelajari apa yang diomongkan, terlebih lagi saya punya bukti jika suatu saat pihak penjual atau yg terkait didalamnya melakukan tindakan wanprestasi atau merubah kesepakatan suka-sukanya dia.

Contoh :

Saat sudah mulai tahap serius, si penjual (dalam hal ini biasanya penjualnya cowo/suaminya) menawarkan macam2 spt misalnya pajak di tanggung dia, prasarana apa saja yg akan ditinggal (AC, Partisi, Lampu, perabot, Tanaman, dst). Namun beberapa hari berikutnya ketika bertemu dengan istrinya dan suaminya, kadang yang diomongkan sudah  berbeda.

Misalnya di awal suami bilang semua AC akan ditinggal (diberikan semua ke si pembeli), sekarang istri bilang AC yang di tinggal 1 saja, sisanya akan dibawa semua, begitu di lihat ternyata AC yg akan ditinggal adalah AC yang sudah tua. Meleset dari kesepakatan awal.

Di awal, suaminya bilang pajak akan ditanggung penjual tapi karena ternyata di tengah jalan ganti notaris atas permintaan istri, tiba2 diputuskan bahwa pajak lebih baik dibayar sendiri2 saja. Karena itulah ketika sudah masuk tahap2 penting dalam nego (menunjukkan kedua belah pihak serius) maka biasanya setiap perbincangan akan saya rekam (tentunya akan lebih baik lagi jika minta ijin dan disetujui kedua belah pihak)

Ketika proses akad baik itu PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) atau AJB (Akte Jual Beli), biasanya penjual sudah memiliki rekanan seorang notaris. Karena kita dari luar kota, ya biasanya kita ikut menyetujui notaris pilihan si penjual.

Ini yang saya lakukan, saat memberikan uang muka (bedakan dengan tanda jadi, uang muka biasanya nilainya besar. Semakin tinggi harga propertinya semakin besar uang mukanya – contoh properti harga 1 milyar, uang muka bisa sampai 300 juta atau lebih, kalo harganya 2 milyar bisa jadi uang mukanya 600 juta atau lebih).

Jadi saya meminta ke penjual kalo saya tidak akan memberikan tanda jadi karena saya serius (alasan lainnya karena dari luar kota), dan akan memberikan uang muka saja. Saat memberikan cek harus di depan notaris karena nilainya cukup besar, biasanya akan dibuatkan PPJB sekalian.

Biasanya nanti si notaris akan membacakan kesepakatan harga jual dan aturan main yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Lalu setelah penjual mendapatkan uang muka dalam bentuk cek, si penjual membuat kuitansi tanda terima.

Saat proses itulah saya mulai merekam diam2 di hape yang saya taruh di celana saya.

Kok di rekam kayak gak percaya saja?

“Ya kan critanya kita belinya di luar kota.”

Tapi kenapa harus direkam?

“Begini untuk proses PPJB biasanya notaris akan meminta tanda tangan dari pasangan si penjual atau ahli waris. Pada prakteknya, kadang yang tanda tangan hanya si penjualnya saja. Lalu dia beralasan, kalo pasangannya/ahli waris, akan datang besok atau sore nanti.

PPJB sah, kalo ada tanda tangan penjual dan pasangan karena itu merupakan harta bersama. Terkecuali jika penjualnya masih single atau tidak ada pasangan atau tidak punya ahli waris. Nah, apakah anda menjamin jika semua akan berjalan lancar?

Jangan-jangan, ketika dia sudah terima uang mukanya lalu karena beralasan pasangannya sakit, jd mundur tanda tangannya. Masih syukur jika semua masih ada itikad baik. Kalo tidak? ya bisa pusing kita, karena akan menyita waktu kita.

Saya tidak berkata tipe penjual seperti itu akan nakal, tidak. Tetapi alangkah baiknya kita bisa lebih mempersiapkan diri.

PPJB pun tidak akan langsung diserahkan kalo ada yang belum tanda tangan. Terkecuali jika Anda tegas, tidak mau kasih uang muka kalo si penjual tidak membawa pasangannya/ahli warisnya. Nah pada prakteknya hal kecil seperti ini kadang banyak yang tidak tahu.

Saya selaku pembeli juga selalu membawa materai, karena biasanya si penjual tidak menyiapkan.

Oke..saya akan sambung lagi nanti, pasti lebih seru 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *