Bagaimana Cara Saya Beli Mobil Hanya Bayar Down Payment Saja

Apa Yang Harus Anda Lakukan Ketika Omset Penjualan Online Sudah Diatas 30 Juta?

fbcover2

 

Saya akan berbagi 2 hal:
1. Kapasitas berbanding dengan Omset
2. Cash flow usaha

1. Kapasitas berbanding dengan Omset
Omset sudah tembus 30 juta, lalu bagaimana?

Tentunya omset anda ingin tembus lebih besar lagi bukan, namun ada beberapa hal yang harus dimengerti, apa itu?

Kapasitas!

Coba anda bayangkan 1 gayung kecil ketika diisi oleh air 1 ember, bagaimana mungkin kita ingin air satu ember besar tapi yang kita sediakan hanya 1 gayung kecil?

Dalam konteks ini kapasitas berbicara tentang SDM, Infrastruktur dan juga Produk serta yang paling penting adalah pribadi Anda.

Jadi teruslah belajar, ikut seminar/kursus online ya 🙂
Saya akan ambil satu saja tips praktisnya yaitu Produk.

Produk ini terkait dengan ketersediaan varian/jumlah produk yang cukup, kualitas, harga, bagaimana cara Anda mengemas, dll. Semakin jumlah produknya banyak maka anda harus membutuhkan tempat usaha yang besar pula.

Contoh bagi Anda yang omsetnya sudah tembus puluhan juta rupiah, bisa jadi awalnya Anda memulai bisnis toko online dari rumah (seperti saya), seiring berjalannya waktu rumah Anda semakin penuh dengan barang-barang belanjaan dan produk pesanan dari customer.

Nah, saat itulah Anda ingat tentang Prinsip KAPASITAS ini, bisa jadi anda mulai pikirkan gudang/tempat usaha yang lebih luas.

Saya punya pengalaman menarik akan hal ini, anda bisa sewa gudang/tempat usaha tanpa harus pusing mengeluarkan biaya sendiri.

Lalu uang sewanya dari mana?

Dari potongan biaya ongkir.

Anda bisa minta potongan khusus ke jasa kurir yang biasa anda jadikan langganan.

Misalnya JNE, untuk ongkir diatas 10 juta/bulan bisa mendaptkan 5-10% loh (belum potongan jasa kurir lainnya) atau bahkan Anda bisa ajukan diri menjadi AGEN karena bisa mendapatkan potongan diatas 20% untuk JNE, atau agen lainnya (anda bisa cek sendiri ya)

Jika Anda mendapatkan potongan minimal 1 juta/bulan maka itu sama saja 12 juta/tahun atau jika mendapatkan 2 juta/bulan itu sama saja 24 juta/tahun.

Bukan hanya itu, selain kita bisa bayar sewa tempat baru, kita juga bisa cicil kendaraan operasional (kita ambil kredit) dari potongan biaya ongkir diatas tanpa harus mengeluarkan modal dari kantong kita sendiri, seru ya?

2. Cash Flow Usaha

Anda yang sudah memiliki usaha online yang sudah berjalan, pastinya akan sangat familiar dengan keadaan dimana hasil pencatatan dan uang ditangan selalu berubah-ubah bahkan ada yang minus 🙂

“Pak GM SUSANTO, usaha sudah jalan dan cashflow usaha saya cukup bagus kok, tapi kok perasaan usaha saya segini-gini aja ya?”

Hal pertama yang harus anda sadari betul adalah:

Dalam prinsip bisnis adalah setiap uang yang masuk itu sebenarnya “BUKAN” milik Anda tapi itu adalah MILIK USAHA Anda!

Kalo bisa kalimat diatas DITULIS GEDE-GEDE lalu tempel di meja kerja Anda!

Saya akan perjelas:
Banyak pemula yang buka usaha dan stlh cashflow berjalan, dia pikir itu adalah uang dia!

Salah!
Kesalahan pemula, sering kali bahkan selalu mencampuradukkan antara uang pribadi/rekening pribadi dengan rekening usaha karena dia pikir itu adalah uang dia!

Yang kacau adalah tiap kali nabung selalu dimasukkan ke satu rekening pribadi, jadi konsumtif ya ambil di situ, buat kulakan ya ambil disitu, isi bensin ya ambil disitu, traktir teman ya ambil disitu, dst

Seharusnya Anda “gerah” jika lama-lama memegang uang hasil usaha karen anda sadar bahwa itu bukanlah uang anda, ketika misalnya karena terpaksa anda gunakan uang usaha, maka anda harus cepat-cepat mengembalikan.

Sebagai contoh saya akan ambil studi kasus saya pribadi.

1. Saya selalu membedakan/memisahkan antara rekening transaksi, rekening tabungan dan rekening pribadi, maksudnya?

Uang usaha itu harus masuk ke satu rekening transaksi usaha, dimana ini untuk menerima pemasukan dan juga untuk belanja/keperluan usaha, biasanya cashflownya setiap hari

Rekening saving adalah rekening untuk menampung keuntungan bersih usaha setiap bulan.

Nah, jadi saya pribadi punya 3 rekening.

a. Rekening pribadi (untuk konsumtif dan keperluan pribadi, termasuk setor ke istri)

b. Rekening transaksi usaha-ini bisa setiap hari keluar masuk uangnya/cashflow usaha

c. Rekening saving – hanya untuk menampung keuntungan bersih usaha dalam sebulan, saya biasanya transfer ke rekening ini di awal bulan setelah menghitung keuntungan bersih yang didapat.

2. Karena di usaha saya memposisikan diri sebagai pemilik (tidak terlibat secara langsung setiap hari) maka saya tidak akan pernah ambil gaji, saya hanya ambil profit sharing yang biasa saya lakukan setelah tutup tahun.

Di akhir tahun, dihitung berapa total laba bersih usaha saya, lalu saya ambil hak saya sebagai pemilik (maksimal hanya 25%), ada juga laba ditahan, gunanya untuk memperbesar usaha.

Itulah sebabnya ketika saya disiplin dalam penggunakan uang usaha, hasilnya usaha saya sedikit demi sedikit memiliki aset. Bisa dalam bentuk barang/kendaraan/properti/buka cabang, dll.

Bagian saya hanya bisa saya ambil sesuai dengan komitmen yaitu setelah tutup tahun!

Why?
Karena saya disiplin dan mengerti bahwa uang usaha itu sebenarnya “bukan” uang saya.

Usaha harus semakin besar, tidak masalah saya tidak tampil keren, tapi usaha saya bisa mendatangkan banyak aset produktif 🙂

“Pak, itu kan bapak, kalo saya juga masih kelola usaha juga, itu gimana?”

Mohon Bedakan antara PEMILIK dengan PEMILIK YANG JUGA BEKERJA MENGELOLA USAHA!”

Kalo anda juga bekerja di toko anda, berarti anda pemilik dan juga sekaligus karyawan, anda juga berhak dapat digaji!

Berapa gajinya?

Terserah anda, tapi eittss tunggu dulu karena mentang-mentang anda yang punya terus anda menggaji diri sesuka-suka hati anda, jangan donk!

Bahkan kalo perlu anda ambil gaji paling kecil, hitung-hitung buat reward (bahkan terkadang, ada yang tidak mau digaji – tidak masalah yang penting anda tahu bahwa anda sedang bekerja di tempat usaha anda dan uang disitu bukan hak anda tapi milik perusahaan anda)

Contoh Kasus

Di tahun 2012 lalu, saya bisa membayar uang sewa gudang sebesar 25 juta/tahun tanpa mengambil gaji utama saya sebagai seorang internet marketer.

Setelah itu, saya bisa membeli mobil operasional usaha dengan hanya membayar DP-nya saja.

Cicilannya dibayarkan oleh ‘customer’

Ini bukan rahasia.
Ini bukan hal baru.
Dan ini bukan strategi yang harus ditutup-tutupi apalagi sampai harus saya seminarkan atau dijual.

Why?
Karena prinsip ini sudah banyak dilakukan oleh orang yang melek finansial sejak dulu.

Setiap kita pasti bisa melakukannya, mungkin caranya berbeda tapi prinsipnya sama.

Kita sudah tahu bahwa semakin besar penghasilan seseorang, maka pengeluarannya juga makin membesar.

Kreditnya tambah banyak, gayanya keren, tapi hutang konsumtifnya tidak habis-habis.

Inilah musuh para marketer, tidak mau sabar menunda menikmati hasil dari bisnis onlinenya!

Penghasilan X rupiah -> dibelikan barang mewah, konsumtif, dll
Cicilannya pun akan dibayar dari penghasilan onlinenya.

Si A dari bisnis online sukses meraup penghasilan bersih 15 juta/bulan. Lalu supaya dipandang marketer sukses, dia harus mempercantik penampilan supaya dianggap “wah”.

Salah satunya dengan cara berani ambil kredit konsumtif, kredit properti, sampai kredit kendaraan, belum lagi gaya hidupnya, pelan namun pasti semakin menggerus penghasilan utamanya.

Ketika dia pikir fokus ke affiliate marketer, dia berharap penghasilannya akan semakin membesar. Yap dia berhasil, namun anehnya pengeluarannya pun tambah membengkak.

Mungkin kita familiar dengan cerita-cerita diatas ? 🙂

Kita juga perlu tahu bahwa ada sebagian orang di luar sana, yang bisa beli barang mewah, bisa jalan-jalan, beli ini beli itu bahkan beli properti.

Namun yang membedakan adalah: dia bisa beli barang mewah, bisa jalan-jalan, beli ini beli itu bahkan beli properti bukan dari penghasilan utamanya (main income)

Bagi pekerja mandiri, dia dibayar dari hasil keringatnya, tapi hasil keringatnya itu tidak semuanya digunakan untuk untuk membeli hal-hal diatas (mobil, bayar kontrakan, beli properti)

Lalu dari mana dia bisa beli itu semua?

Uang hasil keringatnya di putar di bisnisnya. Sebagian hasil dari penghasilannya juga di investasikan.

Ayo jangan malas belajar bisnis apa saja, termasuk internet marketing ya 🙂

Di titik tertentu, dia bisa memiliki beberapa sumber income dari bisnis dan aset investasinya.

Sehingga sekarang dia punya penghasilan dari keringatnya sendiri (aktif income). Uangnya dari hasil bisnisnya. Uangnya dari hasil investasinya.

Dengan kata lain, dia bisa mendapatkan itu semua dari hasil komitmen menunda kenikmatan.

Semakin lama dia bisa membelanjakan uangnya, JUSTRU MALAH SEMAKIN DIA MAMPU MENINGKATKAN PENGHASILAN DAN JUGA NILAI ASETNYA.

Tulisan di bawah ini adalah sedikit inspirasi yang mudah-mudahan bisa memberikan manfaat dan memotivasi sebagian dari kita yang saat ini sedang menunda kesenangan karena sedang mengejar tujuan-tujuan besar dalam hidupnya.

Percayalah, komitmen kita itu sangat MULIA dan Anda semua akan menuainya di waktu yang tepat.

Tulisan ini sengaja tidak dibuat rinci, apalagi sampai menuliskan angka-angkanya secara detilnya, karena bukan itu tujuan utamanya.

Saya memberikan ide sederhana ini supaya setiap pembaca bisa menangkap pesan dan gagasan menarik dibalik pengalaman ini.

Dari ide dan gagasan tersebut bisa memotivasi kita dalam proses kemandirian finansial yang kita rancangkan.

“Apa yang saya lakukan?”

1. Bagaimana saya membeli mobil operasional tahun 2013 lalu dengan hanya membayar DP-nya saja?

Yap, saya membeli mobil dan cicilannya dibayar dari hasil perputaran bisnis.

Bayar cicilan mobil, uangnya dibayar dari diskon ongkir JNE. Saat itu saya belum jadi agen dan setiap bulan saya dapatkan potongan diskon rata-rata 4 sd 5 jutaper bulan.

Btw sebenarnya jika saya langsung mengambil jadi AGEN, justru potongan yang saya dapatkan akan jauh lebih besar lagi tapi mengapa saat itu saya belum jd agen?

Seluruh titik lokasi yang saya ajukan, tidak dikabulkan karena sudah ada agen JNE disana 🙂

Sekalipun saya pernah mengeluarkan uang pribadi untuk menambah kekurangan angsuran, tapi paling tidak ketika saya menggunakan prinsip tersebut – saya bisa dikatakan tidak mengeluarkan uang dari dompet saya pribadi (baca=gaji)

Saya bisa menambah aset yaitu kendaraan operasional yang juga dipakai untuk keperluan angkut barang, TANPA harus mengeluarkan biaya pelunasan 100% dari kantong sendiri.

Dengan memiliki kendaraan operasional sendiri, bisa memuat lebih banyak barang kulakan dan tentunya semakin meningkatkan omset penjualan.

2. Saya tidak membayar uang sewa gudang sebesar 25 juta/tahun yang berasal dari kantong pribadi

Kontrak rumah untuk gudang senilai 25 juta, uang sewanya dibayar dari bunga deposito yang berasal dari laba ditahan hasil dari bisnis online.

Catatan:
– uang sewa dibayar dimuka, dimana uang sewa tersebut berasal dari hasil bunga deposito tahun pertama
– bunga deposito yang ditransfer ke rekening tabungan kita, selanjutnya dihitung sebagai “biaya penyusutan”
– dengan demikian setelah masa kontrak berakhir, dan akan diperpanjang lagi, uangnya sudah ada.

Sehingga saya boleh berkata, bahwa saya tidak membayar 100% uang kontrakannya dari penghasilan utama saya (aktif income)

“Pak GM SUSANTO, Saya punya ide bisnis online yang menarik. Sudah berjalan dan ingin mencari modal. Bagaimana ya?”

Pertama, bisnis itu tidak selalu dikaitkan dengan modal besar. Buktinya, dengan modal terbatas banyak marketer sukses membangun bisnis onlinenya (saya salah satunya, hehehe)

Jadi tidak ada lagi alasan tidak mau berusaha karena tidak ada modal. Faktanya, banyak yang berhasil juga kok 🙂

Yang ke dua, terimalah kerjasama dengan orang, meski kita cuma mendapat sedikit bagi hasil.

Jangan buru-buru menginginkan keuntungan besar. Yang penting bisa menemukan orang yang mau bekerjasama dengan kita dan percaya bahwa kita mampu menjalankan proyek tersebut.

Ini penting, karena biasanya orang yang memiliki ide selalu langsung menuntut suatu yang besar.

Misalnya Anda punya ide bisnis, lalu pergi ke orang yang punya uang, dan sepakat kerjasama. Tapi pemilik uang mengatakan hanya mau membagi hasil 15 persen.

Kebanyakan orang yang ada di posisi seperti Anda itu akan marah dan tidak setuju. Kebanyakan kita maunya 50:50 atau 60:40.

Pokoknya paling tidak kita bisa dapat diatas 30%.

Bagi saya, ini sikap atau pemikiran yang kurang tepat.

Kenapa salah?

Karena dengan menuntut, misalnya 50 persen, si pemilik uang tidak setuju, maka kerjasama tidak berhasil. Apalagi jika kita tahu bahwa investor tersebut punya rekam jejak dan kredibilitas yang baik.

Akibatnya, hasilnya nol.

Make Sense?

Jadi 50 persen kali nol hasilnya adalah nol.

Sementara jika mengalah dan mau dengan 15 persen, lalu kemudian ada hasilnya 100, maka dia akan mendapatkan 15 persen dari 100 yaitu 15. Nilai lima belas ini angkanya jauh lebih besar dari nol.

Maka, dalam berbisnis jangan pernah menghitung uang di kantong orang lain.

Pikir uang di kantong kita sendiri, kantong kita bertambah tidak?

Ini penting, karena banyak yang salah di fase ini. Terjebak prosentase besar yang ujungnya hanya menghasilkan nol. Padahal dia baru juga masuk pada level start up business.

Itulah pelajaran bisnis yang saya buktikan dengan pengalaman saya sendiri. Tidak hanya teori, tapi sudah saya praktekkan dan saya buktikan.

Jadi, siapa bilang tak bisa memulai bisnis dengan modal terbatas?

Tidak ada makan siang gratis, dalam hal ini kita tetap harus menghitung seandainya akan tetap mengeluarkan biaya tambahan untuk mengangsur atau biaya lain-lain.

Dengan cara tersebut, paling tidak saya bisa memutar cashflow usaha dan meningkatkan aset (CASH IN) lebih besar dari liabilitas usaha tersebut.

Ambil prinsipnya, lalu terapkan untuk semakin bersemangat meningkatkan aset dan penghasilan anda 🙂

Anda mau belajar bagaimana cara jualan online seperti saya?

Pelajari 8 Video Basic Bagaimana Anda Bisa Menjual Jauh Lebih Banyak Dari Kompetitor Di Kota Anda. Sekalipun Budget Iklan Anda TERBATAS. Lihat videonya disini

Our Rating

7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *