30 Juta Hilang Karena Ikut Seminar Yang Salah

Boleh tidak ikut seminar/workshop?

seminarSangat boleh, bahkan saya anjurkan.

Jika kita sudah tahu apa yang menjadi keinginan kita, sudah menemukan role model/orang yang lebih dulu sukses di bidang yang akan kita tekuni dan ternyata beliau mengadakan seminar, tentu saja direkomendasikan untuk ikut.

“Bagaimana dengan istilah pembicara yang kaya dari seminar?”

O ya, itu salah satu model bisnis yang membuat seseorang menjadi kaya. Tidak salah dengan hal itu.

“Tapi seminarnya kok mahal sekali pak? Bagaimana?”

Tidak salah dg seminar mahal. Mungkin Anda bukan target marketnya.

“Tapi saya pingin sekali ikut pak, hanya terbentur biayanya, saya bingung apakah nantinya yang saya dapatkan akan sebanding dengan investasi yang saya bayar?”

Mungkin pertanyaan-pertanyaan serupa diatas seringkali ada di benak kita, termasuk saya sendiri ketika ingin memutuskan untuk ikut sebuah seminar.

Perhatikan ini : Judulnya OVER PROMISED tanpa ditulis syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku bagi para pesertanya.

Inilah yang kadang membuat orang lupa dan pada akhirnya kecewa baik itu ketika ingin ikut seminar tentang properti, bisnis, saham, internet marketing, keuangan, dsb

Saya pribadi masih mengikuti seminar/workshop utk ilmu-ilmu yang saya butuhkan, tetapi kuncinya adalah di DIRI KITA SENDIRI.

Cerita pertama:

Tahun 2005-tahun 2006, saya pernah mengikuti beberapa seminar Internet Marketing, salah satunya yang beberapa pembicaranya dari luar negeri.

Anda tahu, seingat saya waktu itu saya sudah habis 6,5 juta rupiah utk ikut seminar 2 hari-an, termasuk hotel.

Tahun itu uang segitu suangat besar loh. Tapi apa yang saya dapatkan, ternyata setiap pembicara hanya berbicara 1-2 jam dan itupun hanya kulit luarnya, dan diakhiri dengan “jualan lagi” dengan penawaran marketing yang bombastis dan masing-masing pembicara menjual program lanjutannya dari 5-10 juta rupiah/orang.

Pertanyaannya, apakah setelah membeli produk lanjutan tersebut, kita tahu seluruh “rahasia” dari pembicara tsb? TIDAK.

Beberapa orang yang membeli produk lanjutan, mengaku ternyata dia harus keluar uang lagi untuk ikut program coachingnya sampai puluhan juta rupiah!

Apakah salah model seminar seperti itu? TIDAK!

Salahkah para pembicara yang jualan saat seminar? TIDAK!

POINT pentingnya adalah di diri kita sendiri.

Cerita kedua :

Tahun 2011 (kalo tidak salah), saya pernah ikut seminar yang salah satu tema menariknya adalah tentang bagaimana menjadi pemilik bisnis yang sudah berjalan yang dibawakan oleh seorang wanita, mengaku sebagai seorang entrepreneur dan sudah keliling jadi pembicara di seluruh Indonesia. Punya ini punya itu

Pada akhirnya dia menawarkan proyek bagi hasil sebagai investor pasif dengan nilai investasi senilai 30 juta untuk 1 slot saham.

Singkat cerita saya kasih DP dan dalam 2 minggu berikutnya, saya lunasi kewajiban saya, tanda tangan di depan notaris.

Minggu demi minggu berjalan, bulan demi bulan. Usaha yang dijanjikan tidak kunjung selesai dg segala permasalahannya, begitu jalan-pun sepertinya dipaksakan/seadanya. Ilmu-ilmu yang dimiliki si pembicara itu nampaknya tidak dipakai oleh dirinya sendiri.

Ujung-ujungnya bisa ditebak uang investor yang dikumpulkan dari hasil seminar “raib” tanpa meninggalkan hasil spt yang dijanjikan.

Dan ternyata saya tidak sendiri, di kota2 lain banyak yang bernasib sama dengan saya. Bahkan beberapa sudah pernah ada yang memperkarakan kasusnya ke pihak yang berwajib.

Hanya dengan modal kemampuan berbicara, presentasi power point, dan klaim punya ini punya itu, masih bisa membuat orang lain dengan mudahnya percaya tentang apa yang dia janjikan.

“Mulanya dari mana?”

Seminar!

“Salah siapa? Apakah pembicaranya?”

Tidak, salah saya! (jangan cari kambing hitam, lebih baik tunjuk muka sendiri!)

“Lalu ada saran bagi pemula yang ingin ikut seminar?”

Ada. Kalau mau ikut seminar ya tinggal ikut saja. Tapi jika dirasa biayanya mahal, jangan terlalu terpaku pada “JUDUL” seminarnya karena sah-sah saja mereka membuat judul yang sangat “marketing” sekali untuk membuat orang tertarik.

1. Anda harus tahu apakah di seminar tersebut, sekalipun bunyi iklannya sepertinya “over promised” tapi apakah juga mencantumkan syarat dan persyaratan tertentu bagi peserta?

2. Kesalahan saya diatas adalah TIDAK MENCARI TERLEBIH DULU TENTANG PROFIL PEMBICARA.

Jadi bagi Anda yang ingin ikut seminar-seminar apapun temanya, lebih baik cari yang gratisnya dulu, biasanya ada pembicara yg membuka seminar gratis lalu diakhiri dengan penawaran workshop/seminar lanjutan berbayar.

Nah jika sudah sampai penawaran tsb, Anda tinggal hitung dan analisa sendiri apakah penawarannya sepadan tidak dengan apa yang akan Anda dapatkan.

3. Saran saya, jangan putuskan di hari itu saat kondisi hati Anda sedang emosional karena mendengar penawaran yang begitu sayang dilewatkan (terkecuali uang tidak menjadi masalah untuk Anda)

“Pak, kalo saya sama sekali tidak pernah dengar profilnya bagaimana?”

Di jaman sekarang ini, minimal seorang pembicara itu memiliki situs/blog/fanspage. Kita bisa lihat apa yang sudah dilakukannya, apa yang dia bagikan di media online tsb.

4. Kita bisa ikuti program gratisannya (jika ada) secara online, kita bisa tanya-tanya ke dia, kita bisa cari tahu bagaimana testimoni orang lain tentang dia, kita bisa tahu motivasinya dia, dst

Ingat, ada beberapa orang yang memang terbukti berpenghasilan tinggi/sudah sukses dari metode yang dilakukan tapi tidak memiliki kemampuan utk berbicara di atas panggung dengan kosakata kalimat yang baik, layaknya orang yang kerjaannya memang jadi pembicara seminar.

Ingat juga, ada orang yg berpenghasilan tinggi/terbukti sukses dengan metode yang dia lakukan tapi dia sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mengajar orang lain. Jadi buat dia mungkin apa yang disampaikannya itu mudah, tapi tidak bagi para peserta seminar.

Jadi kuncinya ada di diri kita sendiri.

Bagaimana kita menyikapi, menganalisa, mencari tahu tentang role model kita/pembicaranya spt apa, lalu mulai mencoba dari program gratisannya dulu (bisa melalui web atau free seminar), bertanya jawab dengan dia/timnya, melihat track record-nya, apa kata orang tentang dia, berapa orang yang sudah dibuatnya “berhasil” dengan pengajarannya, apa motivasinya, sampai mengukur kemampuan keuangan diri sendiri ketika ingin ikut seminarnya, dst.

Terkadang, asal kita tekun, kita bisa dapatkan secara gratis hal-hal yang kita butuhkan di google/forum-forum bahkan situs-situs online, bertanya kepada “para mastah” di luar sana yang dengan santainya banyak berbagi tanpa berpikir akan menguras kantong Anda.

Dan saya pikir ini bisa menjadi langkah awal yang bijak sebelum Anda mengikuti seminar dengan biaya mahal, dari satu seminar ke seminar mahal lainnya.

Jangan salahkan EO/Pembicaranya jk kita merasa uang kita dikuras, karena selama kita berpikir objektif dengan hati tenang bukan karena emosi sesaat karena mendengar penawaran yang sangat menarik, pastinya kita akan lebih baik lagi dalam memutuskan untuk mengikuti sebuah seminar berbiaya mahal atau tidak.

Dan ingat, apakah ada syarat dan ketentuan tertentu yang harus Anda miliki sehingga Anda layak ikut seminar?

Misalnya: Jika Anda belum punya rekening tabungan, belum pernah membuka usaha sama sekali, hanya karyawan yang bergaji setara UMR lalu ikut seminar tentang trading saham dg biaya seminar 2 juta rupiah, tentunya sekalipun metodenya sepertinya masuk akal, tp pada prakteknya hal ini akan cukup menyulitkan Anda. Dan pastinya Anda merasa bahwa uang yang telah Anda bayarkan tidak sepadan dengan ilmu yang Anda dapatkan.

Cek n ricek adalah salah satu kunci supaya kita dapat mengambil ilmu-ilmu yang kita butuhkan tanpa harus merasa di kuras kantongnya.

Masih banyak para pembicara sukses yang tidak asal njeplak dalam menentukan fee karena di dorong oleh misi/panggilannya, jadi motivasinya semata-mata bukan karena uang. Toh sekalipun harus membayar, biasanya itu semua bisa di nilai wajar, bisa jadi sebagai pengganti snack/makan, kamar hotel atau bahkan jika ada keuntungannya, maka seluruh keuntungan akan di berikan kepada yayasan amal.

Toh, tanpa harus ngotot tampil sebagai pembicara-pun, dia tetap bisa sukses (atau berpenghasilan) dari apa yang dikerjakan/dimilikinya, dan bukan semata-mata kaya karena mengejar keuntungan selangit dari para peserta di setiap seminar yang di adakan.

5. Kita bisa cek dari EO-nya, apakah selama ini si EO terbukti sukses dalam mendatangkan pembicara-pembicara yang berkualitas dan sepadan dengan nilai investasi? atau hanya mengejar keuntungan semata dari para peserta tanpa membuat klasifikasi-klasifikasi target market peserta yang tepat dengan syarat-syarat ketentuan yang berlaku bagi setiap pesertanya?

Apakah Anda punya pengalaman yang bisa dibagikan untuk pembaca blog ini ?

17 Comments

  • tia says:

    Thanks untuk tipsnya sangat bermanfaat

  • Ondel Ondel says:

    Kalau 30 juta utk ikutin seminar mah menurut saya buang2 uang dan waktu saja. Mending usaha real atau ikut bisnis online menjadi affiliasi seperti amazon, clickbank dan lainnya.

  • Lekabunajwa says:

    Amat sangat membantu bagi kami yang masih awam dalam dunia bisnis terutama masalah seminar, sukses selalu buat pak Gm….

  • Den Mas says:

    Trima Kasih atas pencerahannya pak GM, terus terang saya memang belum pernah mengikuti seminar, apalagi seminar Bisnis, malah saya berencana mau mengikuti seminar bisnis, memang perlu pertimbangan matang-matang, apalagi dengan biaya yang sangat mahal belum lagi perjalanannya jauh pasti sangat menguras isi kantong 🙂 namun apa salahnya dicoba untuk pengalaman.. 🙂

  • budi says:

    Trims tipsnya, banyak pelaku bisnis online (tepatnya jualan online) yang masih newbie seperti saya bisa terjebak dengan iklan-iklan ataupun newsletter yang BOMBASTIS (tidak salah sih pembuatnya), tapi ya betul pak GM Susanto tergantung diri kita sendiri. Cari mentor yang tepat, dan baik hati, syukur-syukur mau bagi ilmu secara gratis. trims.

  • burhan says:

    sangat menginspirasi bagi kami agar lebih berhati-hati dalam mengikuti seminar berbayar

  • Arifin says:

    Betul sekali apa yang di sampaikan Pak GM, saya sering ikut seminar tapi tidak semua sesuai realita yang mereka katakan,
    bahkan pernah ada seminar .. si pembicara katanya punya ini dan itu , eh ternyata secara kebetulan keluar dari lokasi hotel, pulangnya naik motor … he…he….he… gimana dong yang tadi di ruangan di sampaikan … Nah akhir nya kembali pada DIRI KITA SENDIRI…

    Terima kasih Pak GM , yang selalu kirim Artikel ke Email saya.

  • Terimakasih Pak GM…

    Saya termasuk orang yg sangat semangat mengikuti seminar. Sudah puluhan seminar saya ikuti. Tapi mmg benar,tidak semua pembicara layak kita ikuti seminarnya. Baiknya mengikuti pembicara yg sudah familiar saja di kalangan umum.

    Harus selektif memang, bahkan dulu sebelum saya mengikuti seminar Pak Tung Dasem Waringin & beberapa motivator senior di Indonesia saya pun mengawali dengan mencari tau profile mereka. Mulai dari searching di internet & membeli beberapa buku karya mereka.

    Setelah cukup puas dg itu barulah saya beranikan diri u/ mengikuti seminar yg berbayar. Dan ternyata benar, dg ikut seminar ilmu & aura semangatnya jauh berbeda dibandingkan dengan membaca buku/mendengar audionya saja.

    Dan saya tidak pernah menyesal sedikiitpun mengeluarkan uang sekian pluh juta… karena ilmu yg saya dapat sdh bisa mengembalikan modal investasi tsb,bahkan sudah BEP. Tinggal menuai hasilnya saja… tidak perlu waktu lama karena sudah punya blueprintnya..

    Termakasih pak GM, terus berbagi

    Salam Sukses…
    Nur Yanwar Affandi

    Owner Hanaroo Babywrap Indonesia

  • shenny says:

    thx for sharing pak..

  • Andrew says:

    saya pernah mengikuti sebuah seminar internet marketing, ternyata itu hanya preview untuk mengikuti seminar berikutnya yang harganya Jutaan.
    dan…
    sayapun mundur teratur.. mending baca2 artikelnya pak GM aja deh.. Thanks

  • Dwiyanto says:

    Terimah Kasih atas artikelnya Pak GM Susanto dengan artikel-artikel Bapak sangat menbantu saya untuk melatih diri menjadi internet marketing karena keterbatasan ilmu yang saya dapat dari seminar yang pernah saya ikuti itupun hanya tingkat lokal, ilmu yang pernah saya dapat mengajarkan saya menjadi broker atau informan karena saya tidak punya produk dan jasa, tapi dengan banyaknya telpon yang masuk saya semakin kewalawan melayani sementara saya belum bisa membuat newsletter dan memasang autoresponder memang sering terjadi penjuaalan sekali lagi tank artikelnya Pak GM.

  • adetruna says:

    dengan membaca artikel di atas telah membuat saya semakin mengerti dah hrs benar-benar memerhatikan seluk-beluk atau paling tidak cek penyelenggaranya alias EO-nya *Trims ya pak*

  • Hany Anidia says:

    Untuk urusan seminar jujur saja saya belum pernah mengikuti. Tapi, saya sangat setuju dengan saran Bapak tentang bagaimana mengikuti seminar yang wajar utk kita 🙂

    Soo,,,semoga bisa menjadi patokan utk berpikir mengikuti seminar yg boombastis . hehehe

  • xyz says:

    Setuju sekali Pak,,,,,,,,,,,

    Memang beda antara orang yang hidup dan kaya nya dari jualan Seminar,,,, atau orang yang memang sudah hidup dan kaya dari bisnis lain,,, baru ngadakan Seminar,,,

    INTINYA : LIHAT DIRI KITA SENDIRI 🙂

    yhanks u/ sharingnya Pak GM

  • Tifatul says:

    Benar Iklan Iklan Seminar memang Menggiurkan..tapi kita tidak bisa tahu hasilnya

  • rizal says:

    Betul sekali pak gm saya pernah mengalami apa yang anda alami karena tergiur dengan hasil yang bombastis tapi hasilnya tragis uang raib. Seminar kesini kemari saya ikuti tapi akhirnya UUD (Ujung2 nya duit).

  • imam says:

    Betul sekali apa yang diungkapkan oleh pak GM Sutanto itu. Sering kali kita terhipnotis oleh kalimat-kalimat marketing yang diexpose ketika seminar-seminar tersebut ditawarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *